joomlarulit.com

Jakarta, Berdikaricenter.id. Kebijakan mengentasi illegal fishing di awal pemerintahan Jokowi membuat Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti menuai banyak kontrovesi. Padahal apa yang dilakukannya selama menjabat posisi menteri adalah untuk Indonesia.


"Aku kudu piye? Gini salah, gitu salah. Saya ini cuma mau ikan banyak, nelayan dapat ikan, laut Indonesia jadi milik Indonesia. Asingnya tidak boleh. Mereka bikin pabrik bikin apa boleh, tapi masa yang tangkap orang luar negeri. Saya sekarang benar-benar merasa sendiri mengurus maritim Indonesia" ujar Susi dalam acara diskusi di Berdikari Center, Jakarta, Kamis (25/6/2015) malam.


Menteri asal Pangandaran itu juga mengatakan, kerugian negara sebesar Rp 3.000 triliun karena tindak pencurian ikan dan beragam tindak pidana bukanlah angka buatan tetapi melalui perhitungan. "Kerugian Rp 2.000 triliun hingga 3.000 triliun itu bukan angka buatan itu real," kata Susi.


Susi mengingatkan bahwa Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani mengemukakan kerugian sebesar US$ 20 miliar, maka jumlah tersebut tidaklah jauh dari perkiraan dirinya. Ia juga memberi satu gambaran bahwa ada penurunan impor bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar hampir 36 persen juga ada andil dari kontribusi pemberantasan pencurian ikan. "Mereka pasti tidak membawa BBM dari negara mereka," katanya.


Selain ilegal fishing,  kebijakan susi merambah destructive fishing, yaitu penangkapan ikan yang memakai bom dan seine (salah satu jenis alat tangkap ikan), Susi menjelaskan, penangkapan ikan menggunakan bom dan seine merusak biota laut dan terumbu karang (coral reef).


Ia menegaskan, pelaku usaha perikanan harus menjalankan peraturan Undang-Undang saat proses penangkapan ikan. Ia melarang cara-cara yang tidak dibenarkan, apalagi merusak ekosistem laut.


"Saya bicara harus memulai usaha yang bertanggung jawab. Jangan hanya ingin untung yang sebesar-besarnya tetapi tidak mengindahkan lingkungan, dan merusak dan kita yang rugi," sindirnya.


Di akhir diskusi, Soni Sumarsono selaku peneliti senior berdikari center, menyatakan siap mendukung kebijakan KKP, “Bu Susi tidak sendiri karena Berdikari Center akan siap membantu”. *RED

Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Baca 920 kali
Redaksi Berdikari Center

Alamat Redaksi

The H Tower, 11fl. Unit E, Jl. HR. Rasuna Said Kav20, Jakarta Selatan 12940

E-Mail: redaksi@berdikaricenter.id

Tentang Kami

Berdikari Center (BC) adalah lembaga kajian strategis yang menghimpun pejuang-pemikir dan pemikir-pejuang untuk mengkaji, mengembangkan dan mengimplementasikan konsep-konsep pembangunan nasional berbasis pemikiran Bung Karno tentang Trisakti, Kebangsaan Indonesia, dan Sosialisme Indonesia untuk mencapai negara Republik Indonesia yang merdeka,  bersatu, berdaulat, adil dan makmur
 

Komentar Publik

We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…