joomlarulit.com

Jakarta, Berdikaricenter.id. Pemerintah didesak untuk segera membuka keran impor beras untuk menghadapi stok beras yang semakin menipis guna persediaan pangan nasional. Kelangkaan diakibatkan datangnya bencana el nino 2015 yang biasanya diikuti bencana La Nina yang berdampak pada persediaan pangan nasional karena bergesernya jadwal panen beras. Pilihan impor beras dilakukan untuk menjaga stok beras agar bisa mencukupi kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau

Demikian butir yang terungkap dalam diskusi “Ketahanan Beras Nasional 2015” di kantor Berdikari Center (BC), jakarta, Selasa (22/9) malam. Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut ; Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti, Dekan Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta Prof Dr Ali Agus, Guru besar Fakultas Pertanian IPB Prof Dr Dwi Andreas Santoso dengan moderator Anggota Komisi VI DPR-RI Aria Bima.

“Setelah menghadapi bencana El Nino yang menyebabkan kemarau panjang, ada kemungkinan akan diikuti oleh bencana La Nina yang bisa memicu curah hujan lebat.  Keduanya akan mengganggu siklus produksi padi nasional,” ungkap Djarot Kusumayakti di hadapan peserta diskusi rutin BC.  Sehingga saat ini Indonesia sedang menghadapi dua ancaman cuaca ekstrem.

Djarot menambahkan musim kemarau yang panjang juga menyebabkan serapan beras untuk kesejahteraan rakyat atau rastra akan semakin berkurang. Sebab, saat musim kemarau ini justru sangat sempurna untuk panen beras yang memiliki kualitas bagus.

Di lain pihak menurut Djarot, penugaskan Bulog terhadap beras saat ini adalah penyerapan 4 juta ton setahun. Kedua, stok akhir Oktober 2015 sebanyak 2 hingga 2,5 juta ton, dan ketiga, stok akhir tahun 2015 minimal 1,5 juta ton sesuai arahan Presiden Jokowi pada 6 Agustus lalu.

Untuk itu menurut Djarot, pihaknya menyerahkan keputusan impor sepenuhnya pada pemerintah. Adapun fokus Bulog saat ini adalah melakukan penyerapan beras di berbagai daerah di tanah air. Djarot mengingatkan jika tidak ada impor, maka akhir tahun Bulog hanya memiliki 50-60 ribu ton beras. Jumlah tersebut sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan stok beras tahun lalu yang mencapai 1,4 juta ton.

Tidak hanya pangan, namun hal itu juga berimplikasi terhadap petani. “Selain krisis pangan, pemiskinan petani juga trus berlanjut,” ujar Guru besar pertanian IPB Prof Dr Dwi Andreas Santoso. Menurutnya, pada periode September 2014-Maret 2015 jumlah penduduk miskin meninghkat dari 27,73 juta menjadi 28,59 juta. Hanya dalam tempo 6 bulan 570.000 petani jatuh miskin. Jumlah itu diperkirakan akan semakin bertambah pada periode April 2015 – maret 2016. “Kedua faktor itu akan berimplikasi pada kestabilan politik,” ujar Andreas.

Ketiga nara sumber Djarot Kusumayakti, Prof Dr Ali Agus, dan Prof Dr Dwi Andreas Santoso dan moderator Aria Bima sepakat bahwa sudah saatnya pemerintah membuka keran impor beras. Langkah tersebut lebih dianggap sebagai penyikapan atas adanya faktor x yakni alam yang tidak bisa diganggu gugat. “Gejolak alam ekstrim tidak dapat dihindarkan,” ungkap Aria Bima. Membuka keran impor menjadi jawaban itu semua. *RED

 

Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Baca 789 kali
Redaksi Berdikari Center

Alamat Redaksi

The H Tower, 11fl. Unit E, Jl. HR. Rasuna Said Kav20, Jakarta Selatan 12940

E-Mail: redaksi@berdikaricenter.id

Tentang Kami

Berdikari Center (BC) adalah lembaga kajian strategis yang menghimpun pejuang-pemikir dan pemikir-pejuang untuk mengkaji, mengembangkan dan mengimplementasikan konsep-konsep pembangunan nasional berbasis pemikiran Bung Karno tentang Trisakti, Kebangsaan Indonesia, dan Sosialisme Indonesia untuk mencapai negara Republik Indonesia yang merdeka,  bersatu, berdaulat, adil dan makmur
 

Komentar Publik

We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…