joomlarulit.com

"Menjelang pemilihan presiden, suhu politik negeri paman sam mulai memanas. Seperti biasanya, sudah menjadi budaya politik Amerika, bahwa sebelum diantara kedua partai menyajikan calon presiden yang akan diusungnya maka debat di internal partai pun diadakan guna menjaring siapa yang dianggap paling bisa memimpin negara besar itu."

 

Dari beberapa debat yang telah berlangsung, debat yang paling mendapat sorotan awak media Amerika ialah debat yang diselenggarakan oleh Partai Republik. Dari 13 kandidiat, tokoh terkuat diantaranya adalah mantan Gubernur Florida, Jeb Bush (adik mantan presiden George. W Bush), mantan pemimpin perusahaan Hawlett-Packad Carly Florina dan taipan real state, Donald Trump. Diantara para kendidat ini, tokoh yang terpopuler ialah Donald Trump. Dari beberapa polling yang dilakukan oleh Routers, Trump selalu memimpin di posisi teratas. Bahkan seusai perdebatan, jejak pendapat yang dilakukan oleh Fox News, kembali menunjukan Trump berada di posisi teratas. Bukan hanya menjadi tokoh populer, Trump juga dikenal seorang tokoh yang kontroversial. Pendapat-pendapatnya dalam debat dianggap “nyeleneh”. Dan dengan itu, ia seringkali menjadi buah bibir dan sorotan publik Amerika.

Pilpres kali ini adalah pilpres ke 58 dalam sejarah demokrasi Amerika. Dan Amerika dikenal dengan negara yang demokrasinya sudah mapan. Tingkat partisipasi pemilu di Amerika Serikat merupakan yang paling tinggi hingga sekitar 70 persen. Bahkan Amerika Serikat adalah negara pengusung ide demokrasi di garis depan di seantero dunia. Diduga, gara-gara panasnya politik negeri paman sam ini, Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia melemah. Banyak saham yang berpindah. Sebanyak 3,3 miliar lembar saham senilai Rp 3,7 triliun berpindah tangan dengan frekuensi 92,8 ribu kali transaksi. Pemilu Presiden di Amerika Serikat dijadikan momentum oleh investor untuk melakukan aksi ambil untung. Namun benarkah demokrasi Amerika berjalan seperti apa yang kita bayangkan?

Jimmy Carter menyatakan, untuk menjadi calon presiden (Capres) AS membutuhkan uang sekitar USD200 juta atau sekitar Rp2,9 triliun. Dan hal ini terbukti, di pemilihan presiden tahun 2004, total ongkos politik untuk dua pasangan calon mencapai angka 4 miliar dolar AS (hampir 40 triliun rupiah). Bahkan Center for Responsive Politics melaporkan, saat presiden Bush dan Kerry bertarung di pemilihan presiden, mereka membuang dana hingga 63,7 juta dolar AS hanya dalam waktu enam bulan terakhir untuk membeli jam tayang di berbagai stasiun televisi maupun ruang publikasi di berbagai media cetak. Bahkan di tahun 1996 saja, pertarungan Clinton-Dole sudah menghabiskan biaya kampanye 116 juta dollar AS. Sementara persaingan Bush Junior dengan Gore di pilpres tahun 2000 menelan biaya kampanye 163 juta dollar AS. Sedangkan data Los Angeles Times memperlihatkan, rata-rata jumlah uang yang dikeluarkan untuk pertarungan kursi senat saja sekitar 175 juta dollar AS. Untuk kursi kongres, dihabiskan 144 juta dollar AS. Dan di pilpres yang lalu, Barack Obama menghabiskan US$2 miliar atau setara dengan 20 triliun rupiah untuk berkampanye dalam mengantarkan dirinya untuk menjadi presiden AS.

Ternyata demokrasi yang dianggap sistem yang paling menguntungkan rakyat malah justru memakan biaya yang sangat tinggi. Sehingga perebutan kekuasaan melalui pemilu yang dikatakan demokratis ini sesungguhnya menjadi ajang pertarungan mesin uang. Maka muncul pendapat bahwa semakin besar kekuatan uang yang dimiliki oleh seorang kandidat, maka semakin besar pula peluang untuk memenangkan pertarungan.

Di tambah di Amerika sejak tahun 1978, KPU AS (Federal Election Commision) membebaskan individu, perusahaan, atau serikat-serikat menyumbang secara tak terbatas untuk kepentingan partai. Sehingga wajah yang terlihat dalam konstelasi politik Amerika justru menjadi ajang pertarungan di antara para konglomerat dan pemilik modal. Dan pilpres merupakan “ring” dimana mereka bertarung.

Washington Post melaporkan bahwa ajang pilpres adalah momen dimana para konglomerat berlomba menjatuhkan para lawan bisnisnya yang juga menyokong calon presiden lain. Mereka juga berlomba mengeluarkan dana guna memenangkan seorang calon presiden yang dipastikan bisa memuluskan aktivitas bisnis mereka dan menghambat aktivitas lawan bisnis mereka. Seperti yang dilakukan George Soros, ia menyumbangkan uang pribadinya sebesar 15,5 juta dollar AS untuk mendanai kegiatan pilpres. Begitu juga dengan pengusaha asuransi kendaraan Progressive Corp, Peter B Lewis yang menyumbang sebanyak 14 juta dollar AS. Kemudian Stephen Bing, produser dari California, menyumbang sebesar 8,2 juta dollar. Linda Pritzker, investor dari Houston Texas, menghibahkan sekitar 4 juta dollar AS, berikut ke delapan nama besar lainnya ikut memberi kontribusi finansial masing-masing 1-3 juta dollar AS guna menggalang dukungan melalui media massa maupun aktivitas pemilih di 17 negara bagian. Dan pendiri Google, Sergey Brin menyumbangkan dananya sebesar USD 30.800.

Dana yang mereka sumbangkan tidak hanya bermuara pada satu calon. Dan uang itu tidak mengalir secara cuma-cuma seperti seorang paman yang memberikan uang jajan kepada sepupunya. Tercatat sewaktu presiden Bush memenangkan pilpres, dari total 630 konglomerat yang menyumbangkan dananya, ada sekitar 143 orang mendapat imbalan diangkat menjadi pejabat federal termasuk dua menteri, 24 orang ditunjuk sebagai duta besar AS di berbagai negara. Dan sekitar 101 perusahaan besar penyumbang dana bagi pemenangan Bush mendapatkan total kontrak baru senilai 3,5 miliar dollar AS sejak tahun anggaran 2002, demikian catatan Texans for Public Justice.

Para konglomerat ini bukan hanya orang kaya, namun orang “superkaya” yang memiliki pendapatan perkapita diatas rata-rata orang Amerika. Mereka pula yang menguasai 10 persen PDB negeri paman sam itu. Mereka hanya berjumlah 1 persen dari 100 persen penduduk Amerika. Mereka berpendapatan 1 juta US$ dollar per tahun, atau sekitar 10 miliar rupiah per tahun. Dan Donald Trump adalah salah satunya. Donald Trump, hingga Juni 2013, tercatat kekayaannya US$ 63 juta atau Rp 713,3 miliar versi Forbes. Merekalah yang disebut oleh Jeffrey Winter sebagai “Oligarki Sipil” Amerika. Karakteristik dari Oligarki sipil Amerika yakni mereka menggerakan mekanisme politik guna melakukan upaya “pertahanan pendapatan”. Upaya yang umum dilakukan dalam usaha pertahanan pendapatan ialah menghindar dari pajak. Internal Revenue Service (IRS), melaporkan bahwa kasus penggelapan pajak di Amerika Serikat (AS) meningkat hingga USD 21 miliar pada tahun ini. Di kebanyakan kasus, mereka justru mengalihkan beban pajak kepada masyarakat yang berpendapatan di bawah mereka.

Mereka lebih mengusung pengetatan anggaran, dimana beberapa pos-pos anggaran termasuk anggaran pertahanan di pangkas. Mereka juga menentang keras kebijakan-kebijakan Presiden Obama yang berorientasi pada subsidi sosial yang dianggap pemborosan yang tak perlu. Di tengah situasi semacam ini, angka kemiskinan di AS ini meningkat 15,1% sejak tahun 2009. Atau sebanyak 46,2 juta jiwa. Penduduk miskin ini pendapatannya kurang dari US$30/hari. Rasio gini Amerika Serikat mencapai angka 0,40 dimana hal ini merupakan pertanda tingkat kesenjangan pendapatan dan kekayaan di Amerika sangat besar. Di situasi semacam ini, masihkah kita bersikukuh berdemokrasi seperti Amerika? Masihkah kita bersikukuh untuk melakukan Amerikanisasi politik?

Nilai butir ini
(1 Pilih)
Baca 591 kali
Selengkapnya di dalam kategori ini: Mengurai LGBT »
Redaksi Senthir Media

Sekeretariat :
Gg. Tulip No. 344, Gatak, Karang bendo, Banguntapan, Bantul, DIY
E-mail: dpc_gmni.yk@gmail.com.

Tentang Kami

Berdikari Center (BC) adalah lembaga kajian strategis yang menghimpun pejuang-pemikir dan pemikir-pejuang untuk mengkaji, mengembangkan dan mengimplementasikan konsep-konsep pembangunan nasional berbasis pemikiran Bung Karno tentang Trisakti, Kebangsaan Indonesia, dan Sosialisme Indonesia untuk mencapai negara Republik Indonesia yang merdeka,  bersatu, berdaulat, adil dan makmur
 

Komentar Publik

We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…