joomlarulit.com

Sejarah seksualitas adalah sejarah kekuasaan, setidaknya itu kata Foucault. Dan itu tak dikutip dari cerita Sodom and Gomorrah.

Di waktu itu, Inggris baru saja mengalami “revolusi industri”. Arus modal berputar dengan cepat. Kota-kota metropolis pun mulai berkembang dengan pesat. Orang desa yang kehilangan kerja karena pertanian tak lagi bernas, meninggalkan keluarga untuk pergi ke kota dan bekerja di pabrik untuk menjadi buruh-upahan. Sebagai ganti pekerjaannya yang dulu lenyap.

Saat mereka bekerja di kota, jauh dari keluarga, mereka terbebas dari tuntutan seksual. Beberapa laki-laki pun melakukan strategi agar tetap pada jalur yang aman. Mereka tetap memiliki istri serta anak di desa, namun beberapa waktu ia akan pergi ke Molly House untuk bercinta dengan sesama laki-laki.

Mendengar kabar itu, pemerintah Inggris yang dibantu oleh gereja bertindak tegas. Homoseksual pun mulai jadi ketegori “penyimpangan seksual” yang kemudian jadi “penyimpangan sosial” dan mulai dikenakan hukuman mati. Sebelumnya hanya bestiality (berhubungan seks dengan hewan) saja yang di ketegori sebagai penyimpangan seksual dan sosial.

Munculah kajian-kajian para ahli, seperti Caarl Maria Benkert yang meneliti tentang ilegalitas homoseksual di Jerman tahun 1869. Menurutnya, homoseksual ialah bawaan sejak lahir dan tidak melalui proses pembelajaran, sehingga seharusnya mereka tidak dihukum mati oleh negara, katanya.

Begitu juga Havelock Ellis seorang seksolog abad 19, berpendapat bahwa homoseksual ialah cacat bawaan sehingga ia tak boleh dihukum mati dan harus dirawat. Baginya, homoseksual ialah jiwa yang terjebak pada tubuh yang salah. Namun Karl Hendrich Ulrich menyatakan bahwa homoseksual adalah jenis seks ke tiga.

Baru di tahun 1905, Sigmund Freud mengatakan bahwa homoseksual adalah hasrat seksual yang belum matang akibat adanya interaksi antara dorongan hasrat dari dalam diri manusia dengan lingkungan sosialnya itu bermasalah. Baginya, gejala seksual tak semata-mata merupakan bawaan sejak lahir. Namun buah dari komunikasi antara hasrat dalam diri (Id) dengan lingkungan sosial (Super ego).

Namun apapun itu. Soal LGBT adalah soal orientasi seksual. Dan soal orientasi seksual tak bisa dilepaskan dari adanya konsep keluarga sebagai lembaga sosial terkecil yang didalamnya memuat orientasi seksual manusia.

Dan perlu di ingat, keluarga bukan sebuah tatanan yang hadir begitu saja, tapi ia adalah “unit sosial-ekonomi”. Dimana keluarga adalah tatanan yang diciptakan manusia untuk mengatur hasil buruan, hasil bercocok tanam, hasil bertani. Singkatnya, kelurga adalah unit sosial yang diciptakan untuk mengatur proses dan hasil produksi.

Karena menurut Engels, manusia sebelum adanya konsep keluarga, persoalan “seksualitas” menjadi hal yang sangat cair. Bisa dilakukan oleh siapa saja. Tanpa adanya batasan, baik aktivitas seksual, tujuan, maupun orientasi seksualnya. Namun ketika hidup berburu berubah menjadi bercocok tanam dan proporsi kekayaan itu meningkat, manusia membutuhkan sebuah “unit” untuk mengatur kekayaan yang diperoleh.

Di ciptakanlah sebuah “unit” yang disebut dengan istilah “keluarga”. Karena kepentingannya guna mengatur kekayaan, hubungan seksualnya pun harus diatur dengan hubungan berpasangan laki-laki dan perempuan (monogami) serta hubungan seksualnya harus mengarah pada “pro-kreasi” yakni menciptakan keturunan. Sehingga kekayaan bisa dipertahankan (warisan). Disinilah Engels berkata bahwa kemunculan konsep “keluarga” adalah hasil evolusi dari kemunculan konsep “kepemilikan privat”. Terutama keluarga monogami.

Dan kita tak boleh lupa bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang hanya mengenal konsep keluarga dalam bentuk “monogami”, dimana kita hidup berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Dalam keluarga monogami, orientasi dari hubungan seksualnya pun hanya untuk “pro-kreasi” yakni hubungan seks dengan tujuan untuk menciptakan keturunan. Orang yang kemudian melakukan aktivitas seksual yang tak dapat mendukung tujuan prokreasi, seperti sodomi, oral seks, biseksual, lesbian dan lainnya akan mendapat “cap” melakukan “penyimpangan seksual”.

Ia kemudian jadi kategori sosial baru. Ia dianggap sebagai bentuk “culture shock”. Atau sebuah perilaku seks yang kurang wajar. Di luar “konstruk” yang sudah tertanam. Bahkan hubungan seksual di luar pernikahan (di luar konsep monogami dan pro-kreasi), seperti lokalisasi, jajan di luar, juga ikut terkena “cap” buruk dari common sense yang berlaku.

Disinilah apa yang disebut “seks” bukan hanya jadi persoalan sensasi dan kenikmatan, tetapi jadi pertaruhan masalah benar dan salah. Sehingga ia jadi bagian dari “kontrol kekuasaan”, jadi tugas gereja dan Negara melalui hukuman dan larangan, guna mengukuhkan konsep keluarga monogami yang sebenarnya untuk mengukuhkah “kepemilikan privat”. Soal usaha mempetahankan kekayaan. Sehingga kekuatan sosial dan ekonomilah yang mendefinisikan identitas LGBT yang kita pahami sekarang.

Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Baca 552 kali
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Donald Trump Dan Oligarki Sipil Amerika
Redaksi Senthir Media

Sekeretariat :
Gg. Tulip No. 344, Gatak, Karang bendo, Banguntapan, Bantul, DIY
E-mail: dpc_gmni.yk@gmail.com.

Tentang Kami

Berdikari Center (BC) adalah lembaga kajian strategis yang menghimpun pejuang-pemikir dan pemikir-pejuang untuk mengkaji, mengembangkan dan mengimplementasikan konsep-konsep pembangunan nasional berbasis pemikiran Bung Karno tentang Trisakti, Kebangsaan Indonesia, dan Sosialisme Indonesia untuk mencapai negara Republik Indonesia yang merdeka,  bersatu, berdaulat, adil dan makmur
 

Komentar Publik

We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…