joomlarulit.com

Sehari setelah Aksi "Doa Bersama" 2 Desember (212), Ketua PP Muhammadiyah mengeluarkan pernyataan tertulis,  yang menyebutkan "Aksi 212" patut diapresiasi, karena menunjukkan kematangan sikap dan keluhuran budi umat Islam Indonesia. Aksi 212 disebutkan, memperkuat dan membuktikan kepada publik, bahwa umat Islam Indonesia mencontohkan misi damai dalam kata dan tindakan. Keberhasilan aksi damai 212 dikatakan bukan hanya milik umat Islam, tetapi milik bangsa secara keseluruhan. Sejatinya, aksi di Monas itu untuk mendesak aparat penegak hukum menahan calon Gubernur petahana Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Unjuk rasa yang tadinya akan menggelar aksi unjuk kekuatan di jalanan, dapat di negosiasikan aparat keamanan secara musyawarah dan mufakat untuk beralih pada aksi yang "super damai" dalam wujud doa bersama dan dilanjut dengan salat Jumat berjamaah, di lapangan Monumen Nasional. Kehadiran Presiden Joko Widodo menunaikan salat Jumat dan menyapa lautan massa peserta aksi damai 2 Desember atau 212 di Lapangan Monas, pada Jumat (2/12) bukan tanpa makna. Presiden sedang menyampaikan pesan kepada masyarakat dan dunia. Kehadiran Presiden di acara doa bersama di Monas disambut pekikan "takbir" ratusan ribu massa yang hadir, kehadirannya menggagalkan tesis bahwa aksi 212 merupakan bagian dari upaya menggulingkan atau menjatuhkan Presiden. Kehadiran Presiden justru menjadi pusat perhatian ummat Islam, tidak hanya yang hadir di Monas saja, melainkan  rakyat Indonesia dan masyarakat Dunia. Presiden tampil menegaskan berada paling depan dalam merawat dan menjaga kebhinnekaan Indonesia di mata rakyatnya dan Dunia. Presiden membuktikan dirinya sebagai negarawan sejati dan mampu berada diatas semua pihak, baik yang mendukung maupun yang kritis dan menentangnya. Ia mampu merangkul semua komponen bangsa, seperti yang ditunjukkannya di Monas.

Di sisi lain, dengan kehadiran Presiden Joko Widodo, umat peserta aksi diharapkan menangkap komitmen pemerintah untuk menyerahkan kasus dan proses hukum terhadap Basuki T Purnama kepada proses hukum tanpa intervensi. Dengan demikian, ke depan diharapkan tidak ada lagi aksi pengerahan massa besar-besaran untuk memberi tekanan yang mengarah pada pemaksaan kehendak. Kita semua menghargai, aksi super damai 212 yang berjalan tertib dan baik adalah buah dari kesadaran bersama untuk menjaga NKRI. Untuk itu, setelah aksi 212, semua pihak agar memperhatikan persoalan-persoalan bangsa ke depan. Kita setuju dengan sikap organisasi Muhammadiyah, yang juga mengharapkan kepada umat Islam agar aksi 212 menjadi aksi yang terakhir. Dari perspektif atas apa yang terjadi dalam dua aksi "Bela Islam" (412 dan 212) tidak bisa dilepaskan dari kegemaran manusia untuk berkumpul dengan alasan agama. Mengapa ratusan ribu orang bisa mudah berkumpul di sebuah tempat merupakan hal yang wajar. Agama memang bisa menggerakkan umat untuk berkumpul di suatu tempat.

Di Indonesia, dimana agama dianggap paling penting di atas segalanya, sangat mudah mengumpulkan massa dengan label agama. Rangkaian demonstrasi "Bela Islam" menunjukkan kebutuhan beragama menjadi kebutuhan akan penegasan identitas. Hal ini penting dipahami agar kita tidak mudah diinstrukai oleh kepentingan politik tertentu. Sikap kritis terhadap dogma-dogma atas nama agama sangat dibutuhkan agar kita tidak hanya menjadi "massa tanpa kepala" yang mudah terprovokasi oleh klaim-klaim kebencian yang bertujuan memecah belah masyarakat dan justru mereduksi nilai agama itu sendiri. Barangkali penting untuk tidak hanya menempatkan kerangka "Aksi 2 Desember" pada aspek politik dan penegakan hukum saja. Kita perlu menciptakan upaya "kolaboratif" dalam melawan ide, wacana dan paham ilusi ke-Islaman melalui strategi kontra-narasi yang berfokus melawan "center of gravity". Hal ini berporos pada pendekatan kultural dengan melibatkan otoritas agama dan kelompok-kelompok Islam moderat. Kelompok ini harus mampu membangun kembali wacana atau diskursus positip mengenai agama yang toleran, vis a vis dengan memperkuat komitmen politik dari Pemerintah.

Kembali pada fokus bahasan ini, aksi 212 adalah upaya "kekuatan sipil" yang tengah melakukan pressure untuk mencapai tujuannya yakni penahanan Ahok. Jika kita berteriak agar persoalan hukum jangan diintervensi, aksi 212 justru menunjukkan intervensi itu sendiri. Islam dan kaum muslim di Indonesia itu "khas". Kita mudah digerakkan bahkan oleh hal-hal yang belum tentu benar, hal-hal yang belum jelas, hal-hal yang masih tampak "subhat". Tak salah jika ada yang berpendapat bahwa sebagian dari kita ini menjadi muslim "sumbu pendek", sedikit saja dijilat api, meledak. Dan kita hari ini, bisa melihat Presiden dengan percaya diri tampil ksatria di hadapan massa aksi 212 untuk shalat Jumat bersama di bawah guyuran hujan. Naluri kepemimpinan dan kenegarawanan Joko Widodo, pada saat yang tepat membungkam para pecundang yang mencoba upaya-upaya delegitimasi terhadapnya tanpa melukai. Presiden menunjukkan bahwa negara RI di bawah pemerintahannya masih eksist dan aman. Presiden menunjukkan bahwa titik kendali dalam suasana genting masih dia pegang. Pada saat yang sama, massa juga menunjukkan bahwa mereka masih mencintai Presidennya.

Takbir dikumandangkan dan teriakan " Hidup Jokowi" diteriakkan, menjelaskan kepada siapapun  bahwa Presiden Joko Widodo masih dicintai rakyat. Ratusan ribu umat muslim Indonesia yang hadir di Lapangan Monas, yang datang dari berbagai penjuru Tanah Air dengan harapan yang sama memohon kepada Tuhan agar seluruh bangsa ini dilindungi, diberikan kekuatan, dipersatukan kembali. Semangat mereka untuk berdoa dan berdzikir bersama di tengah berbagai kesulitan hidup yang saat ini dirasakan di negeri ini hendaknya dapat mengetuk hati terutama pemangku negeri ini. Presiden Joko Widodo menyatakan aksi 212  bukan demonstrasi tetapi "Doa Bersama". Apresiasi yang luar biasa ditunjukkan peserta aksi terhadap Presiden Joko Widodo yang secara ksatria hadir dihadapann massa. Kehadiran Presiden juga membantah tuduhan para pecundang selama ini yang menyatakan ia tidak perfuli dengan rakyat dan umat mualim. Itulah arti kehadiran Joko Widodo ditengah lautan massa aksi 212. Aksi 212 mengingatkan pada banyak peristiwa. Rangkaian momentum yang mencetak sejarah dan memberi kontribusi besar pada keadilan dan kebenaran. Semoga aksi ini tercatat dalam sejarah sebagai proses dialogis melaui doa dan dzikir untuk perubahan yang lebih baik bagi bangsa dan negeri ini.

Nilai butir ini
(1 Pilih)
Baca 385 kali
Redaksi Berdikari Center

Alamat Redaksi

The H Tower, 11fl. Unit E, Jl. HR. Rasuna Said Kav20, Jakarta Selatan 12940

E-Mail: redaksi@berdikaricenter.id

Tentang Kami

Berdikari Center (BC) adalah lembaga kajian strategis yang menghimpun pejuang-pemikir dan pemikir-pejuang untuk mengkaji, mengembangkan dan mengimplementasikan konsep-konsep pembangunan nasional berbasis pemikiran Bung Karno tentang Trisakti, Kebangsaan Indonesia, dan Sosialisme Indonesia untuk mencapai negara Republik Indonesia yang merdeka,  bersatu, berdaulat, adil dan makmur
 

Komentar Publik

We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…