joomlarulit.com

Wacana rekonsialiasi pernah mencuat kembali di berbagai media. Rekonsiliasi tak lepas lepas dari persoalan konflik masa lalu bangsa Indonesia. Pasca kemerdekaan keberadaan silang ideologi seringkali berujung pada konflik politik dengan memantik persoalan berikutmya yang tak berkesudahan. Tidak sampai di situ, persoalan hubungan pusat pemerintahan dan daerah pun tak luput pada pergolakan fisik bahkan senjata. Bahkan di era Orde Baru muncul istilah potensi konflik dari ekstrim kanan (EKA) dan ekstrim kiri (EKI). Kedua nama itu pernah sangat populer.

Di mata sejarawan Dr Anhar Gonggong bahwa selama 70 tahun Indonesia tidak ada golongan yang tidak pernah menyakiti dan tidak ada pernah golongan yang pernah disakiti. Mari kita tengok ke belakang, dari 1945,1946,1947 kemudian masuk 1948. Pada momen itu terjadi pergumulan. Di situ pula saling sengakarut menyakiti juga disakiti. Komunisme, tentara dan lainnya bermain disitu. Pun setelah KMB sama dengan Negara Indonesia Serikat ata biasa disebut Republik Indonesia Serikat (RIS) sama bagaimana kekuatan-kekuatan kesatuan berhadapan dengan golongan federalis saling menyakiti. Berlanjut memasuki tahun 1950 hingga 1965 terjadi pertikaian ideologi.

Selesai? Belum. Setelah soeharto berkuasa, pertikaian tidak juga berhenti.  Aceh merdeka, Papua merdeka berlanjut. Dengan kata lain, historis-faktual memang bangsa Indonesia tidak pernah berhenti dari konflik. “Di dalam konflik itu tidak ada satu pun golongan yang tidak pernah disakiti dan tidak pernah menyakiti. dalam arti kita sebenarnya saling menyakiti,” tambah Anhar. Bagaimana lengkapnya, berikut ini nukilan wawancara mantan Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Sejarah dan Purbakala bersama Nasrullah Kusadjibrata dan M Derajat dari Berdikari Center.


Rekonsiliasi menjadi persoalan. Dulu potensi konflik timbul antara lain dari EKA dan EKI. Apa pandangan anda terkait potensi konflik dalam perjalanan bangsa ini?

Berdasarkan, begini itu interpretasinya bisa berbeda, kalau anda tanyakan Kahar  muzakar atau natsir, mereka bilang, kami bukan pengkhianat negara, kami hanya melawan pemerintah. Itu dua hal yang berbeda. jadi kami menentang soekarno, oleh karena kami beranggapan dia melaksanakan pemerintahannya tidak berdasarkan ideologi yang seharusnya menjadi pegangan dalam bernegara. Nah, ideologi yang menurut mereka tentu saja ideologi Islam. jadi yang dia tentang itu pemerintahnya bukan negaranya. Mereka bukan mau mendirikan negara Republik Indonesia, mereka mau minta kepada Soekarno dan itu misalnya kahar muzakar, dia hanya minta, oke saya setuju dengan pancasila, tetapi ada keterangan tentang ketuhanan yang maha esa itu lebih lanjut yang berkaitan dengan posisi keislaman dia sebagai ideologi. Nah, posisi yang sama sebenarnya pada Permesta. Saya pernah mewawancarai beberapa tokoh seperti Ventje Sumual segala macem itu. kami bukan menentang Soekarno. Sebenarnya kami menentang PKI itu, persoalan kami adalah kami tidak mau di pemerintahan republik ada komunisme. Jadi kami tidak menentang negara republik Indonesia, kami menentang pemerintah dan juga tidak pada Bung karno dalam pengertian itu, kami hanya meminta kepada Bung Karno agar supaya golongan komunis jangan ikut dalam pemerintahan itu sepanjang yang saya tahu. Jadi memang begini, selama 70 tahun kita merdeka kalau mau jujur, tidak ada golongan yang tidak pernah menyakiti dan tidak ada pernah golongan yang pernah disakiti. itu faktanya kayak gitu. mulai dari 1945,1946,1947 kemudian masuk 1948. Di situ kan terjadi pergumulan, dan disitu saling menyakiti juga. Komunisme, tentara, segala macam bermain disitu. Lalu kemudian setelah KLB sama dengan Negara Indonesia Serikat, RIS, Republik Indonesia Serikat sama bagaimana kekuatan-kekuatan yuditaris berhadapan dengan golongan federalis dan itu juga saling menyakiti, iya kan? Nah setelah kita, memasuki tahun 1950 keberadaan ideologi berkelahi sampai 1965. Lalu kemudian setelah soeharto berkuasa, tidak berhenti kan? Aceh merdeka, Papua merdeka berlanjut, lalu kemudian dan seterusnya. Nah ini semua, apa artinya? secara historis-faktual memang kita, tidak pernah berhenti dari konflik dan didalam konflik itu tidak ada satu pun golongan yang tidak pernah disakiti dan tidak pernah menyakiti. dalam arti kita sebenarnya saling menyakiti. faktanya itu

Dari konteks itu, sebenarnya pergumulan ideologi pencarian identitas saja?

Iya antara lain itu, pencarian identitas dan kita ini kan bangsa yang baru merdeka belum punya pengalaman memerintah. tidak ada. saya selalu katakan begini, tidak ada satu kekuatan dan pemerintahan yang melaksanakan pemerintahannya secara konstitusional murni. semua melanggar konstitusi semua juga mengatakan konstitusional dibalik ketidak konstitusionalnya

Baik pemerintahan maupun yang di non-pemerintahan?

Iya, itu faktanya kayak gitu kok, iya kan? tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Bung Karno sebagai orang yang, sebenarnya keluarga saya dengan keluarga Soekarno itu dalam arti pribadi itu sangat dekat. Bung Karno menyebut kakak saya ananda, ketika menulis surat kepada dia dalam rangka penyelesaian Kahar Muzakar dan keamanan di Sulawesi Selatan. Begitu dekatnya, walaupun tentu ada nilai politiknya tetapi memang, dalam pengertian-pengertian itu. Ada banyak hal yang melatari konflik itu dengan berbagai-bagai hal yang sangat rumit. Ambil sebaga contoh yang G-30 S saya pernah tanya kepada Rosihan Anwar, saya tanya Pak Rosihan, anda memandang G-30 S sebagai apa? dia bilang begini secara sederhana, har, sebenarnya semua orang sudah tahu dengan kondisi yang ada ketika itu bahwa saatnya akan terjadi peristiwa besar. Nah yang menjadi persoalan adalah "kapannya" gitu. jadi waktunya itu yang mereka belum pastikan, tetapi mereka sudah tahu baik Bung Karno, Nasution, Yani semua tahu. Tetapi "kapannya" yang belum.

Konstelasi pada saat itu bagimana? tadi EKA nya sudah sekarang EKI nya

Konstelasi ketika itu kan, sebenarnya ketika Bung Karno dengan kembali ke UUD 1945. Memberlakukan UUD 1945 dan kemudian merumuskan demokrasi terpimpin, kan langsung terbagi dua kekuatan. Bung Karno menggunakan ide awalnya tahun 1926 yang kemudian dirumuskan menjadi Nasakom, ide itu sejak tahun 1926. Lalu kemudian ada tentara yang masih tidak melupakan peristiwa madiun itu. Lalu bung karno, saya mengatakan begini kesalahan orang melihat Bung Karno seakan-akan dia adalah bagian dari komunisme, saya bilang tidak, Bung Karno itu bukan komunis tetapi idenya sejak awal, sejak tahun 1926, sebelum mendirikan PNI sudah mengatakan,  kalau kita baca  artikel naionalisme-islamisme dan marxime itu jelas sekali bahwa ada tiga kekuatan termasuk PKI yang bisa menghadapi kolonialisme dan imperialisme. Walaupun Bung karno sadar bahwa ketiga kekuatan ini tidak mungkin bersatu tapi didalam perjuangan menurut Bung Karno kan kita bisa saling memberi. nah dasarnya disitu. Jadi komunisme seharusnya juga mengeleminasi bagian tertentu dari ideologinya, islam juga begitu, nasionalisme juga begitu, tetapi Bung Karno sadar, jangankan  dengan islam dengan nasionalisme aja komunisme tidak bisa kerja sama kan itu. Nah, tetapi sebagai ideolog ya Bung Barno menjalankan itu sebagai sebuah obsesi ketika dia sudah punya kekuasaan. Wajar aja bahwa dia punya ide puluhan lalu sekarang ada kesempatan, kenapa dia tidak lakukan? maka dia ambil komunisme, dia ambil islam, agama dan diambil nasionalisme sebagai kekuatan dalam menopang. Nah disitu, maka terbagi dua kekuatan tentara bersama yang anti komunis, komunisme bersama dengan dirinya sendiri tetapi Bung Karno tetap mempertahankan PKI dalam pengertian bahwa dia adalah kekuatan melawan imperialisme. Disitu persoalan yang tidak dipahami orang, nah kalau ini tidak dipahami akan sudah, tetapi susahnya ketika itu terjadi konflik yang tidak berhenti rupanya Bung Karno juga mengalami kesulitan dalam bagaimana mengharmoniskan tiga kekuatan yang bersumber dari idenya sejak tahun 1926. Disitu dia mengalami kesulitan, celakanya dimana? komunisme ketika mendapatkan ruang itu, dia  juga berusaha untuk merebut kekuasaan karena tidak ada komunisme yang tidak merebut kekuasaan pada konteks waktu itu. Coba aja lihat, semua negara komunis yang ditegakkan kan dengan kekerasan dan revolusi, baru dalam konteks sekarang berbeda, tapi zaman itu seperti itu. Nah  disini kesulitan itu terjadi dan ketika situasi, makanya kalau saya berbicara dengan G-30 S 1965, saya tidak pernah mau meninggalkan situasi 1960-1964, karena 1965 tidak akan terjadi kalau tidak ada 1960-1964.

Bisa dijelaskan?

Iya konflik ini sudah terjadi sejak tahun 1960. Anda lihat bagaimana PKI mendesak agar supaya HMI dibubarkan, iya kan? bagaimana konflik tentara tahun 1962 dengan (bandar bensin) di medan segala macem peristiwa itu. Nah ini adalah dalam suatu proses menuju ke tahun 1965. Di situ peranan PKI bagaimana dia menhancurkan pelatihan PII di kanigoro, iya kan? ada faktor-faktor seperti ini yang tidak bisa diabaikan dalam proses itu. Nah disini kesulitannya, ketika, misalnya ada tuntutan mau mengadakan Presiden meminta maaf, kepada siapa Presiden minta maaf? iya kan?

Maaf saya potong, jadi artinya bahwa korban itu bukan hanya PKI saja?

Oh.. bukan, saya tidak setuju dikatakan bahwa yang menjadi korban hanya PKI. Itu korban dalam arti kata 1965 kesana, tidak 1964 ke sini. Tahun1964 ke sini sampai tahun 1960 oh.. bukan main jahatnya PKI juga pada waktu itu, dia ngadakan kegiatan di desa dengan tindakan yang menyakitkan, yesus sudah mati segala macem, nginjak-nginjak al-Quran dalam masjid. Nah inikan suatu persoalan, yang tidak bisa tidak harus menjadi bagian dalam sejarah kita. Bahwa saya mengerti betul, bagaimana PKI mendapatkan penghujatan yang sedemikian rupa setelah G-30 S. Semua orang tahu ada yang mengatakan 3 juta, ada yang mengatakan 500 ribu, sungai di klaten itu merah kok!, semua orang tahu itu, tetapi apakah dengan itu lalu kita melupakan yang lain? kan persoalaan kita disitu. apakah dengan G 30 S yang terjadi dengan seperti itu lalu kita mengatakan bahwa PKI tidak pernah melakukan hal sama dengan bentuk lain. Nah kalau misalnya misalnya kalau anda minta pemerintah minta maaf dengan G 30 S itu, apa orang HMI tidak akan mengatakan anda minta maaf kepada kami juga karena kami juga dihujat ketika itu.

Didholimi juga?

Di dholimi juga, nah hal-hal seperti ini kan yang harus dipertimbangkan, itu kesulitan kita, ini adalah delima sejarah kita, tetapi dia adalah bagian dari kehidupan kita dalam bernegara.  Tidak bisa disangkal, itu bagian dari sejarah kita dan kita, saya selalu menganggap ini sebagai suatu proses, dimana kita berproses menjadi Indonesia dan menjadi dewasa.

Terhadap wacana rekonsiliasi, anda memandangnya bagaimana?

Saya, rekonsiliasinya jangan mengatakan bahwa yang benar PKI, pasti akan ditolak. Taufik Ismail akan teriak karena dia asisten dosen di IPB dipecat karena CGMI, makanya dia balik marah ketika nama PKI dihilangkan dalam gerakan G-30 S karena dia mengalami perhujatan itu. Nah ini kan jadi, saya kira mau rekonsiliasi sebenarnya ada model yang bagus. Model yang dilakukan Agus Widjojo cs,  iya kan? jadi keluarga, keluarga itu sekarang sudah berdamai, yang saya tonton di apa? di ILC itu anaknya Yani. Nah sebenarnya yang salah pada orang-orang yang mau memaksakan minta maaf itu, seakan-akan tidak ada yang berubah sebenarnya sudah berubah. kalau masih orang berfikir zamannya Soeharto atau orde baru, Ilham Aidit itu tidak mungkin tampil di TV, tidak mungkin! tapi kan artinya sudah berubah orang anggap antara anak-anak keluarga yang saling berkelahi sekarang berdamai.

Syaratnya apa saja yang harus dipenuhi?

Yang harus dipenuhi adalah jangan langsung. Silahkan pemerintah atau siapa saja, dulu sebenarnya KKRI itu, salah satu karena saya termasuk calon anggota salah satu yang saya inginkan adalah mengajak mereka, mari kita duduk dulu dan mari kita terbuka. Kan persoalaannya sederhana dalam arti kata begini, orang-orang PKI salah satu yang dituntut itu kompensasi sebenarnya susah juga negara bisa bangkrut, iya kan? tetapi yang bisa dilakukan adalah mengembalikan semua harta orang PKI yang diambil oleh pemerintah. seperti rumahnya keluarga Pramudya itu kan tanahnya diambil, rumahnya diambil dan itu tidak dikembalikan oleh tentara. jadi itu harus dikembalikan jadi tentara juga harus terbuka kan dalam pengertian itu

Jadi seperti yang diungkapkan Agus Widjojo artinya secara kelembagaan memang harus ada yang berubah?

Iya, sudah berubah kok!. Nah, oleh karena itu sepertinya Ciptaning, aku bangga sebagai anak PKI tidak mungkin jadi anggota DPR-RI. kalau tidak ada yang berubah, sudjatmiko tidak mungkin juga jadi anggota DPR-RI kalau tidak berubah, sudah berubah kok!. Jangan dipaksakan untuk melompati itu karena anda harus ingat, masih banyak juga yang masih, malah kalau anda memaksakan bisa terjadi kekuatan yang diamini lebih besar dari pada kekuatan mereka yang menuntut, bisa terjadi loh!.

Dalam tanda petik, nanti umat islam bisa menagih itu juga ?

Oh... bisa, bisa iya, contohnya kalau pemerintah dituduh, diminta meminta maaf kepada PKI, kenapa keluarga syahril tidak bisa meminta? loh dia ditangkap dan mati dalam penjara kok, natsir ditangkap berapa lama?, Syafrudin Prawiranegara sama, nah apa bedanya? kalau dalam bentuk penyiksaannya mungkin iya tapi kan sama-sama nilainya. Nah ini yang harus difikirkan betul, kalau enggak ya akan terus terjadi konflik. Oleh karena itu saya kembali bahwa sebenarnya Agus Widjojo itu melakukan sesuatu yang sangat bagus dimana mereka membangun kesadaran  baru, oke.. orang tua kita silahkan sudah berkelahi, kita jangan lagi!. Nah oleh karena itu, saya juga meminta pengikut-pengikut ini, ya duduklah bersama, perwakilan-perwakilan anda siapa lah, Ciptaning kalau mewakili orang PKI silahkan datang, panggil siapa juga? kemudian duduk bersama. Tetapi ketika Ciptaning mengatakan bahwa yang salah adalah tentara habis dia, tetapi kalau tentara tidak mengakui proses itu yah salah juga karena faktanya begitu. ini bukan sesuatu yang mudah untuk perjalanan sejarah kita.

Sebaiknya natural atau by designed

Bisa dua-duanya, bisa ditempuh by nature  sudah terjadi kan? dan by design ini yang tidak mudah. Ada kerumitanm-kerumitan tertentu dengan landasan pikir yang, uraian yang saya kemukakan tadi, tidak mudah tapi itu bisa dilakukan. misalnya dulu andai kata KKRI itu dijalankan bisa ada bagian tertentu yang dilakuakan. Nah, yang salah pada dewasa ini.

Jadi secara nature sudah berjalan dengan contoh itu Ciptaning dan Budiman Sudjatmiko sudah jadi DPR-RI. anaknya Aidit yaitu Ilham sudah tampil di TV. Tetapi yang by design ini tidak mudah dulu andai kata KKRI itu tidak bubar, sebenarnya sudah mungkin hasilnya akan jauh lebih baik. Nah kesalahan yang dilakukan oleh kejaksaan yang mau melakukan semacam panitia KKRI itu juga, orang kan langsung curiga. karena yang melakukan kejaksaan, seharusnya presiden atau siapa saja atau Wantimpres mengambil cara-cara tertentu yang lebih kelihatan, tidak melakuakan, tidak terlalu kelihatan kehendak pemerintah. Kesalahannya disitu kalau saya lihat, orang langsung curiga kan?  

Dia tidak legitimate?

Iya, coba kalau secara sederhana, secara sekan-akan berjalan berarus biasa? di Wantimpres bisa kok berbuat, saya tahu ada bekas menteri pendidikan disitu yang Pak Malik orangnya sangat Muhammadiyah tetapi pemikirannya sangat jernih. Saya tahu betul, walaupun dia juga tahu dia disakiti juga, zaman orde lama disakiti dia

Tanya: Zaman HMI ?

Iya zaman HMI disakiti, tapi dalam konteks sekarang saya tahu dia tidak seperti itu lagi. banyak orang-orang  Muhammadiyah, orang islam dan sebagainya juga pikirannya berubah. Oleh karena itu  saya selalu, mau mengatakan orang-orang eks PKI jangan mau melompat sebab ketika anda melompat orang lain juga akan melakukan hal yang sama, iya kan?. Nah oleh karena itu, tempuh saja perjalanan dan sekarang ada pemerintah mau melakukan itu tetapi jangan mengatakan pemerintah seakan-akan mau mengatakan PKI benar dan ini salah, tidak akan diterima!. Yang terjadi sudah ini berjalan ini juga harus dijalankan tapi jangan mengatakan, oh.. ini mau melakukan seperti ini dan ada satu golongan yang dibenarkan yang lain disalahkan, itu tidak akan nyampek!.

Jadi mediasinya tidak perlu pemerintah?

Tidak perlu, bahkan kalau saya, saya akan meminta anda, ada orang seperti Gus Sholah tampil disitu walaupun dia juga disakiti, ada orang-orang seperti itu, ada orang seperti syafii maarif gak akan salah. Coba mulai yang kayak gitu dan tetapi jangan menuntut hasilnya segera begini, yah gak aka selesai dan tidak ada orang yang mau! semua kita sudah disakiti kok dan semua kita sudah menyakiti, faktanya kan itu!.

Kalau gitu tidak ada perlu ada TAP MPR, perubahan TAP MPR dan sebagainya yang dikehendaki oleh orang banyak?

Dulu saya ditanya, waktu Gus Dur minta supaya TAP No. XXV dicabut, saya ditanya terus saya bilang bukan Gus Dur itu tugasnya disitu itu MPR. kalau Gus Dur mau seharusnya dia minta MPR untuk mencabut itu. Tetapi dalam proses waktu itu juga tidak mudah karena kalau, apalagi MPR sekarang tidak punya fungsi apa-apa, itu kesulitannya disitu. Nah itupun menurut saya sebaiknya dilakukan secara yaitu aja, akan berajalan, seperti sekarang eks PKI sudah bisa memilih, sudah kembali hak nya kok, apanya lagi? jadi TAP-TAP MPR itu sebenarnya sudah tidak berfungsi dalam tanda kutip, karena apa? Hak mereka sudah dikembalikan kok oleh mahkamah konstitusi.

Defacto memang sudah tidak?

Defacto, dan semua sudah tidak ada fungsinya apa-apa kok! oh.. sudah terbuka, saya mengajari anak-anak dan murid-murid saya tentang marxisme, G-30 S dan segala macam, sudah terbuka! kalau zamannya Soeharto. masuk penjara lagi saya, kan gitu?. Jadi  ini akan berjalan secara itu tadi yang anda maksudkan, berjalan biasanya

Natural?

Iya natural, tetapi saya setuju juga tetap pemerintah mengambil jalan-jalan tertentu dalam arti kata menyelesaikan secara dengan tujuan menciptakan harmonisasi diantara kita sebagai bangsa.  

Itu harmonisasi, termasuk posisi Bung Karno

Nah itu juga saya pernah ditelepon oleh Rakyat Merdeka, dia ngomong begini, mas Anhar... sekarang PDIP meminta agar supaya pemerinta meminta maaf kepada keluarga Bung Karno. saya bilang begini, ini akan menyulitkan PDIP sendiri, kenapa? sederhana saja, sampai sekarang masih banyak orang, masih kuat, walaupun PDIP sekarang seakan-akan sekarang kuat tapi masih banyak orang mengatakan Bung Karno bukan orang suci. Dia juga melakukan hal sama ketika dia berkuasa dan dia juga melanggar konstitusi diangkat sebagai Pemimipin Besar Revolusi dalam UUD tidak ada itu, ketika diangkat Presiden seumur hidup juga tidak ada dia.

Peran Suhardiman waktu itu?

Walaupun Suhardjiman memintanya ketika itu sebagai bagian dari strategi politik, iya kan? yang pemimpin besar itu bukan Suhardiman, yang polisi ini Yasin, M Yasin itu. Jadi saya sering mengatakan begini, ini juga, kalau orang tidak menghargai Bung Karno? Megawati tidak jadi Presiden. Kalau orang masih benci kepada Bung Karno? Megawati gak akan jadi Presiden, apalagi yang di tuntut? dia juga menjadi Pahlawan Nasional juga. Jadi sebab hal sama anda akan meminta, nanti akan, orang lain mengatakan kalau begitu pemerintah minta maaf juga dong pada keluarga Soeharto, dalam posisi berbeda tapi nilai yang sama, kenapa tidak?. Terlepas dari pada sejak dulu, keluar masuk penjara oleh Soeharto tetapi tidak aneh bagi saya kalau ada orang mengatakan kalau keluarga Bung Karno dibegitukan, kenapa keluarga soeharto tidak? dilemanya kayak gitu. Nah ini artinya ada proses pendewasaan kita dalam melihat kondisi yang terjadi. Kalau saya melihat bahwa semua Bung Karno kembali ke posisinya sebagai orang yang dianggap tinggi, dianggap hebat dalam bernegara dan berbangsa, tetapi jangan dengan itu lalu mau melompat.  karena ada orang lain yang akan segera berada pada lompatan itu dan melompat kembali, melompat dalam bentuk lain. itu persoalannya.

Tugas sejarah untuk rekonsiliasi kalau gitu untuk penemuan, menjadi Indonesia itu harus seperti apa? social enginering harus bagaimana?

Sejarawan harus menulis sebagai seorang sejarawan. yang terjadi di zaman Soeharto adalah sejarah ditulis untuk kepentingan kekuasaan itu yang salah, hal yang sama dilakukan oleh Ruslan Abdulghani ketika dalam proses demokrasi terpimpin itu juga terjadi. Nah ini yang harus difikirkan seperti dulu terjadi kesalahan, Soeharto mau menghilangkan Bung Karno dalam kaitan dengan pancasila. Itukan pikiran buntu, gak mungkin orang menghilangkan Bung Karno dalam kaitan Bung Karno dengan Pancasila, gak mungkin dalam sejarah?! loh dia yang merumuskan pertama kali, dia juga yang merumuskan piagam Jakarta sebagai ketua panitia kecil, dia juga yang mengesahkan Pancasila sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus, lalu kalau orang mau menghilangkan pancasila dari Bung Karno? tahu apa dia tentang sejarah?! kan itu. Jadi hal-hal seperti ini tidak bisa ditolerir dalam penulisan sejarah. Sejarah yang tidak perlu dipertentangkan lagi yang harus masuk ke sekolah kalau PT lain. Tapi untuk SD kelas IV ke atas sampai SMA seharusnya adalah, jadi kesalahan Soeharto adalah mengajarkan G-30 S kepada anak-anak SMA, anak SMP dengan tujuan untuk kekuasaan dia. Seharusnya fakta-fakta saja bahwa kita pernah mengalami ini titik, kesalahannya disitu. Tapi ini kan dieksploitir, sehingga dikatakan yang PKI salah, yang Bung karno salah, Pancasila bukan Bung Karno jadi salah.

Jadi fakta itu harus tapi Adjustment-nya tidak seperti itu?

Contoh sederhana peranan pemuda waktu mau proklamasi bung Hatta mengatakan ah.. peranan pemuda itu brengsek, itu  yang menyebabkan kita terlambat kita seharusnya proklamasi tanggal 16 Agustus terpaksa kiota mundur 17 Agustus karena ulah pemuda. Adam Malik mengatakan ohh.. peranan pemuda sangat besar untuk merdeka, dua hal yang sama dan berada ditengah-tengah itu, tapi cara berfikir dan menilai persoalaan faktual berbeda dan itu biasa. Nah sejarawan tidak boleh begitu, kalau dia mau dia akan mengatakan Adam Malik  berpendapat seperti ini atau berpendapat seperti ini, dia tidak boleh mengatakan yang benar adalah harta dia tidak boleh mengatakan bahwa Adam Malik adalah benar, ndak bisa dia bukan sejarawan kalau begitu.

Nilai butir ini
(1 Pilih)
Baca 1140 kali
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Opsi Pengelolaan Blok Masela
Redaksi Berdikari Center

Alamat Redaksi

The H Tower, 11fl. Unit E, Jl. HR. Rasuna Said Kav20, Jakarta Selatan 12940

E-Mail: redaksi@berdikaricenter.id

Tentang Kami

Berdikari Center (BC) adalah lembaga kajian strategis yang menghimpun pejuang-pemikir dan pemikir-pejuang untuk mengkaji, mengembangkan dan mengimplementasikan konsep-konsep pembangunan nasional berbasis pemikiran Bung Karno tentang Trisakti, Kebangsaan Indonesia, dan Sosialisme Indonesia untuk mencapai negara Republik Indonesia yang merdeka,  bersatu, berdaulat, adil dan makmur
 

Komentar Publik

We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…